Pengembangan Potensi Perikanan

[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Hero_Widget”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Headline_Widget”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Button_Widget”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Headline_Widget”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Button_Widget”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_Headline_Widget”][/siteorigin_widget]

 

Ahmad Rifa’i

Ujang Dindin, S.Pi, M.Si

Potensi Wilayah Kami

Wilayah Sukabumi, Jawa Barat menjadi target awal dari pengembangan budidaya ikan nila bioflok. Daerah tersebut dinilai memiliki potensi dalam budidaya ikan.

Sukabumi memiliki potensi dalam pengembangan karena banyaknya warga yang mengonsumsi ikan nila. Daerah lainnya yang menjadi sasaran pengembangan adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Di wilayah itu ikan nila juga menjadi menu makanan sehari-hari masyarakatnya.

Pengembangan budidaya bioflok nila ini akan menguntungkan bagi warga yang membudidayakan ikan. Hal ini dikarenakan banyaknya nilai lebih dalam sistem budidaya baru tersebut.

Sistem bioflok misalnya menggunakan air dengan sangat efisien. Di mana persentase mengganti air hanya lima persen atau bahkan tidak ganti air sama sekali.

Kelebihan budidaya sistem bioflok nila lainnya yakni meningkatkan efisiensi pakan yang tadinya feed conversion ratio (FCR) 1.5 menjadi 1.03 atau nyaris 1.0. FCR merupakan perbandingan antara berat pakan yang diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total yang dihasilkan.

Aplikasi sistem ini kata Slamet mampu meningkatkan produktivitas hingga 25-30 per kilogram. Benih awal yang ditebar berukuran 8-10 centimeter. Selama tiga bulan pemeliharaan benih tersebut mampu tumbuh hingga ukuran 200-250 gram per ekor.
Kembali ke Atas
Call Now ButtonLayanan Konsultasi
× Selamat datang?